Amankah Bahan Bakar Diberi Tambahan Zat Aditif?

Liputan6.com, Jakarta – Saat ini, banyak beredar di pasaran berbagai jenis zat aditif, seperti salah satunya untuk penambah oktan di bahan bakar. Namun, penggunaan cairan penambah oktan ini, sangat tidak dianjurkan oleh pabrikan kendaraan di Indonesia.

Seperti melansir laman resmi Suzuki indonesia, saat menambahkan zat aditif di bahan bakar kendaraan, bukan tidak mungkin malah berimbas pada penurunan performa mesin kendaraan kesayangan.

Sementara itu, efek negatif dari penambahan zat aditif ini cukup bervariasi, tergantung pada formula yang digunakan oleh zat aditif tersebut. Tapi satu yang pasti, tidak ada perusahaan otomotif yang merekomendasikan zat aditif aftermarket tambahan digunakan pada kendaraan yang mereka produksi.

Sebelum dijual ke pasaran, produk bahan bakar sudah melalui proses uji laboratorium. Setiap bahan bakar mengandung kadar oktan berbeda-beda. Dikhawatirkan, fungsi yang ada pada bahan bakar akan hilang kalau ditambahkan dengan zat aditif lainnya.

Harus selalu ingat, bahwa semua perusahaan yang menyediakan bahan bakar kendaraan sudah membuat keseimbangan dalam formulasi bahan bakar, yang sudah dites dan membagikan manfaatnya kepada konsumen, tanpa ada efek yang bisa merusak kendaraan.

Kalau pemilik memasukkan produk aftermarket zat aditif ke dalam tangki bahan bakar, akan berisiko menyebabkan hal yang di luar dugaan yang tidak sesuai dengan rekomendasi pabrikan sekaligus bisa merusak garansi kendaraan kesayangan.

2 dari 2 halaman

BBM yang Tak Cocok Bisa Menyumbat Sistem Injeksi

Sejalan dengan berjalannya waktu, penumpukan endapan di dalam mesin mobil maupun motor tak dapat dihindarkan.  Salah satu dari penyebab timbulnya endapan deposit atau memicu terjadinya gesekan di ruang bakar adalah pemilihan bahan bakar yang salah. Mesin modern dengan sistem injeksi tentu memerlukan BBM dengan oktan tinggi.

“Mesin modern, termasuk dengan turbocharger kini berukuran lebih kecil dan bekerja dalam kondisi yang lebih berat, menghasilkan kondisi yang lebih berat bagi performa mesin,” kata Andreas Schaefer Shell Global Solutions, Fuels Scientist dalam acara Shell Fuel Academy di Jakarta, Rabu (26/6).

Menurut Andreas, bahan bakar yang tidak baik dapat menyumbat komponen-komponen sistem bahan bakar, seperti injektor (injector noozle) dan katup masuk (inlet valve) pada mesin berbahan bakar bensin.

“Penumpukan deposit di sistem injeksi membuat bahan bakar sulit masuk ke ruang bakar. Akibatnya performa menurun, kompresi juga menurun, gas buang lebih kotor. Jadi semuanya tidak efisiensi,” kata Andreas yang datang langsung dari Jerman.