Rencana Honda Menyambut Era Mobil Listrik di Indonesia

Lebih jauh, Jonfis juga mengkhawatirkan potensi dampak negatif terhadap jaringannya. Dealer, menurutnya akan kehilangan pemasukan dari servis. Belum lagi jejaring pemasok yang berkurang. Soalnya, komponen di mobil listrik berkurang drastis dibanding mobil konvensional.

“Bagaimana recycle baterainya dan nasib supplier kami harus diperhatikan. Karena sebagian supplier akan hilang. Apakah ditinggal langsung atau bertahap. Jadi hybrid masih merupakan solusi signifikan untuk transisi yang lebih baik,” tuturnya.

Meski masih ragu, namun Honda menyatakan tak akan berhenti berinovasi. Hal ini memang sudah dibuktikan dengan dirilisnya versi konsep Honda e Prototype oleh Honda Eropa. Model citycar kompak ini, ditawarkan dengan skema tenaga full listrik.

Kendaraan listrik Honda itu, mampu melenggang hingga 200 km dari sekali pengisian. Jarak yang tentu lebih dari cukup untuk penggunaan sehari-hari, sesuai dengan bentuk mobilnya. Durasi pengisian supercepat juga dimungkinkan terjadi pada mobil ini. Energi baterai Honda e Prototype, bisa terisi hingga 80% dalam tempo 30 menit. Dari rilis resminya, disebut mobil ini masuk jalur produksi massal di akhir 2019.

Langkah bertahap yang diambil Honda, cukup masuk akal. Pasalnya, saat ini mereka juga tengah menikmati nyamannya menjual mobil bermesin konvensional. Apalagi Honda Brio, tengah gemilang di kelas mobil irit bahan bakar. Sambil menunggu regulasi serta infrastruktur rampung, mungkin mereka bisa menyusun langkah selanjutnya. Yang lebih strategis untuk menyambut era mobil listrik.

Sumber: Oto.com